Rabu, 16 September 2015

Mengenal Mesin Milling

Pengerjaan logam dalam dunia manufacturing ada beberapa macam, mulai dari pengerjaan panas, pengerjaan dingin hingga pengerjaan logam secara mekanis.
Pengerjaan mekanis logam biasanya digunakan untuk pengerjaan lanjutan maupun pengerjaan finishing sehingga dalam pengerjaan mekanis dikenal beberapa prinsip pengerjaan, salah satunya adalah pengerjaan perataan permukaan dengan menggunakan mesin Frais atau biasa juga disebut Mesin Milling.
Mesin Milling adalah mesin yang paling mampu melakukan banyak tugas bila dibandingkan dengan mesin perkakas yang lain. Hal ini disebabkan karena selain mampu membuat permukaan datar maupun berlekuk dengan penyelesaian dan ketelitian istimewa, juga berguna untuk menghaluskan atau meratakan benda kerja sesuai dengan dimensi yang dikehendaki.
Mesin Milling dapat menghasilkan permukaan bidang rata yang cukup halus, tetapi proses ini membutuhkan pelumas berupa oli yang berguna untuk pendingin mata Milling agar tidak cepat aus.
Proses Milling adalah proses yang menghasilkan chips (beram). Milling menghasilkan permukaan yang datar atau berbentuk profil pada ukuran yang ditentukan dan kehalusan atau kualitas permukaan yang ditentukan.
Proses kerja pada pengerjaan dengan Mesin Milling dimulai dengan mencekam benda kerja, kemudian pemotongan dengan alat potong yang disebut cutter, dan akhirnya benda kerja akan berubah ukuran maupun bentuknya.

A. PRINSIP KERJA MESIN MILLING
Tenaga untuk pemotongan berasal dari energi listrik yang diubah menjadi gerak utama oleh sebuah motor listrik, selanjutnya gerakan utama tersebut akan diteruskan melalui suatu transmisi untuk menghasilkan gerakan putar pada spindle Mesin Milling.
Spindle Mesin Milling adalah bagian dari sistem utama Mesin Milling yang bertugas untuk memegang dan memutar cutter hingga menghasilkan putaran atau gerakan pemotongan.
Gerakan pemotongan pada cutter jika dikenakan pada benda kerja yang telah dicekam, akan terjadi gesekan/tabrakan sehingga menghasilkan pemotongan pada bagian benda kerja. Hal ini dapat terjadi karena material penyusun cutter mempunyai kekerasan di atas kekerasan benda kerja.

B. JENIS-JENIS MESIN MILLING
Penggolongan Mesin Milling menurut jenis penamaannya disesuaikan dengan posisi spindle utamanya dan fungsi pembuatan produknya.
Ada beberapa jenis Mesin Milling dalam manufacturing, antara lain:
B.1 Berdasarkan Posisi Spindle Utama
  1. Mesin Milling Horizontal. Mesin Milling jenis ini mempunyai pemasangan spindle dengan arah horizontal dan digunakan untuk melakukan pemotongan benda kerja dengan arah mendatar.
  2. Mesin Milling Vertical. Kebalikan dengan Mesin Milling Horizontal, pada Mesin Milling ini pemasangan spindle-nya pada kepala mesin adalah vertical. Pada jenis Mesin Milling ini ada beberapa macam menurut tipe kepalanya, ada tipe kepala tetap, tipe kepala yang dapat dimiringkan, dan tipe kepala bergerak. Kombinasi dari tipe kepala ini dapat digunakan untuk membuat variasi pengerjaan dengan sudut tertentu.
  3. Mesin Milling Universal. Mesin Milling ini mempunyai fungsi bermacam-macam sesuai dengan prinsipnya, seperti: Frais muka, frais spiral, frais datar, pemotongan roda gigi, pengeboran, reaming, boring, dan pembuatan celah.
B.2 Berdasarkan Fungsi Penggunaan
  1. Plano Milling. Merupakan mesin yang digunakan untuk memotong permukaan (face cutting) dengan benda kerja yang besar dan berat.
  2. Surface Milling. Untuk produksi massal kepala spindle dan cutter dinaikturunkan.
  3. Tread Milling. Untuk pembuatan ulir.
  4. Gear Milling. Untuk pembuatan roda gigi.
  5. Copy Milling. Untuk pembuatan benda kerja yang mempunyai bentuk tidak beraturan.
  6. Mesin Milling Hobbing. Merupakan Mesin Milling yang digunakan untuk membuat roda gigi/gear dan sejenisnya (sprocket, dll). Alat potong yang digunakan secara spesifik, seperti membentuk roda gigi (evolvente) dengan ukuran yang presisi.
  7. Mesin Milling Gravier. Merupakan mesin yang digunakan untuk membuat gambar atau tulisan dengan ukuran yang dapat diatur sesuai keinginan dengan skala tertentu.
  8. Mesin Milling CNC. Merupakan mesin yang digunakan untuk mengerjakan benda kerja dengan bentukan-bentukan yang lebih komplek. Semua control menggunakan sistem elektronik yang rumit. Dibutuhkan operator yang ahli dalam mengoperasikan mesin ini.
C. GERAKAN DALAM MESIN MILLING
Pekerjaan dengan Mesin Milling harus selalu mempunyai 3 gerakan kerja.
  1. Gerakan Pemotongan;
  2. Gerakan Pemakanan;
  3. Gerakan Penyetelan.
D. PENGERJAAN PADA MESIN MILLING
  1. Pengefraisan Sisi
  2. Pengefraisan Muka
E. METODE PENGEFRAISAN
  1. Climb Mill. Putaran cutter searah dengan gerakan benda kerja.
  2. Conventional Milling. Putaran cutter berlawanan arah dengan gerakan benda kerja.
F. PARAMETER DALAM PEKERJAAN PENGEFRAISAN
  1. Memilih alat bantu yang digunakan, seperti Mesin Vertical (ragum/catok, kepala pembagi, kepala lepas, rotary table, adaptor), Mesin Horizontal (Kepala pembagi, kepala lepas, ragum, arbor beserta cincin dan dudukan penyangga);
  2. Menentukan parameter pemotongan;
  3. Menentukan cutter;
  4. Pemasangan alat bantu.
Sumber: http://suargi.blogspot.co.id/2011/11/mesin-milling.html (telah disunting oleh Blogger Copyright@2015)

Selasa, 15 September 2015

Tips Perawatan Mesin Bubut


Seperti pada umumnya mesin, Mesin Bubut memerlukan perawatan yang baik agar mesin dapat selalu siap untuk dioperasikan. Perawatan mesin produksi dilakukan secara umum dan khusus.
Petunjuk perawatan umum pada Mesin Bubut biasanya telah diberikan oleh pabrik pembuat mesin, sedangkan perawatan khusus harus dicari berdasarkan pengalaman dan teori-teori mengenai perbaikan terhadap peralatan atau mesin.

PERAWATAN UMUM
Untuk menjaga agar mesin tidak cepat rusak diperlukan perawatan dan pengoperasian yang benar dan saksama. Prosedur perawatan mesin bubut, yakni:
  • Mesin Bubut tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung;
  • Dalam pelaksanaan perawatan seperti penggantian oli pelumas mesin dan pemberian grease, diharuskan memakai oli yang diperuntukkan oleh pabrik pembuat mesin;
  • Setelah selesai mengoperasikan mesin, bersihkan bagian-bagian mesin dari limbah atau kotoran hasil pemotongan dan cairan pendingin;
  • Untuk pemasangan benda kerja pada poros utama, tidak diperkenankan memukul benda kerja secara keras dengan menggunakan palu;
  • Jaga dan perhatikan secara saksama selama pengoperasian mesin, jangan sampai limbah atau kotoran yang halus dan keras terutama besi tulang jatuh ke meja mesin dan terbawa oleh eretan;
  • Setelah selesai mengoperasikan mesin, atur semua handle pada posisi netral dan matikan sumber tenaga mesin.
PERAWATAN KHUSUS
Perawatan khusus ini dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat berdasarkan pengalaman dan buku petunjuk perawatan yang diberikan oleh pabrik pembuat mesin.

Motor Utama
Ada dua kerusakan yang biasa terjadi pada motor pembangkit, yaitu:
1. Motor tidak mampu bekerja
Ada 7 kemungkinan yang menyebabkan motor pembangkit tidak mau bekerja,
  • Tegangan dari sumber tenaga yang masuk ke motor pembangkit rendah sehingga tidak mampu membangkitkan motor pembangkit;
  • Arus yang masuk ke motor pembangkit beda phasa-nya, maka diperlukan pengukuran arus yang masuk satu phasa atau tiga phasa sesuai dengan motor pembangkit;
  • Sekering pada circuit breaker putus/terbakar, apabila terjadi maka sekering tersebut dapat diganti dengan yang baru dan spesifikasi yang sama;
  • Tidak sempurnanya kontak-kontak pada switch atau saklar;
  • Coil pada saklar terbakar;
  • Tidak terjadi hubungan pada kontak limit switch;
  • Rem motor tidak berfungsi secara baik.
2. Motor cepat panas
Ada 2 penyebab yang mengakibatkan motor penggerak menjadi cepat panas, yaitu:
  • Perbedaan tegangan (periksa tegangan listrik yang masuk)
  • Beban motor berlebihan
Dengan adanya beban yang berlebihan dapat menimbulkan panas berlebihan pada motor penggerak, untuk itu perlu diatur kembali bebannya agar sesuai.

KEPALA TETAP
Kepala tetap pada mesin bubut adalah pemegang kunci utama pada keberhasilan pekerjaan menggunakan mesin bubut. Kerusakan yang umum terjadi pada kepala tetap mesin bubut di antaranya adalah
  • Putaran poros utama tersendat-sendat;
  • Putaran poros utama terlalu berat;
  • Suhu atau temperatur pada kepala lepas terlalu tinggi;
  • Terjadinya suara bising pada kepala lepas;
  • Tidak center.
ERETAN
Kesalahan atau kerusakan yang sering timbul pada eretan, sebagai berikut:
  • Eretan sangat berat meluncur pada mesin bubut. Penyelesainnya adalah melakukan pemeriksaan baut-baut setelan kerapatan eretan, apabila terlalu kuat longgarkan baut-baut tersebut;
  • Hasil pekerjaan tidak rata. Hal ini terjadi karena adanya gangguan pada pinion gear. Usaha mengatasinya ialah dengan memperbaiki gigi pinion atau mengganti pinion yang baru;
  • Pemakanan pada benda kerja tidak rata pada waktu penyayatan otomatis. Hal ini disebabkan oleh tidak center-nya poros transportir;
  • Terlalu berat pada waktu pemotongan menyilang. Kemungkinan ini disebabkan terlalu kuatnya pengikat baut untuk pemotongan menyilang;
  • Tidak ratanya permukaan penyayatan menyilang. Kemungkinan ini disebabkan terlalu kuatnya pengikat baut untuk pemotongan menyilang;
  • Tidak ratanya permukaan penyayatan menyilang (facing). Hal ini kemungkinan disebabkan tidak tepatnya penyetelan baut-baut pengikat poros untuk pemakanan;
  • Terlalu keras gerakan tool post. Hal ini disebabkan oleh gangguan pemasangan pasak;
  • Kedudukan tool post kurang teliti sehingga pemakanan kurang baik;
  • Pompa pada apron sangat tulis dioperasikan. Hal ini disebabkan minyak pelumas yang sudah kotor. Lakukan pembersihan atau penggantian minyak pelumas serta membersihkan pipa-pipa saluran.
KEPALA LEPAS
Kepala lepas mudah bergetar atau tidak stabil selama pengerjaan pembubutan. Jika hal ini terjadi, kemungkinan adalah kurang kuatnya pengikat baut pengikat kepala lepas dengan meja atau rangka mesin.

Sumber: http://www.tipsperawatan.com/tipsperawatan-mesin-bubut.html 
(telah disunting oleh Blogger Copyright@2015)

Senin, 14 September 2015

Stamping Press


Pada proses produksi pembuatan komponen-komponen kendaraan dari Raw Material sampai keluar menjadi barang jadi, material tersebut harus melewati berbagai tahapan proses. Salah satunya adalah proses pengepresan (Stamping).

Pada dasarnya proses pengepresan atau stamping menggunakan teknik tumbukan yaitu dengan menekan atau menumbuk suatu material (blank material) pada suatu mesin menjadi bentuk yang diinginkan dimana Mesin Press adalah mesin penopang sebuah landasan dan sebuah penumbuk, sebuah sumber tenaga, dan suatu mekanisme yang menyebabkan penumbuk bergerak lurus dan tegak menuju landasannya. Untuk menghasilkan kualitas pengepresan yang baik, perlu adanya alat-alat pendukung dalam melakukan proses produksi.

Alat-alat pendukung Mesin Press antara lain:

DIES
Adalah suatu cetakan yang digerakkan oleh Mesin Press untuk menekan atau mengepres bahan atau material untuk menghasilkan barang yang sesuai dengan contoh.
Proses pembengkokan dan pemotongan pada Mesin Press haruslah sesuai dengan standar yang ada di perusahaan. Begitu juga pada saat pemasangan Dies itu sendiri.
Adapun langkah-langkah dalam pemasangan Dies, sebagai berikut:

  1. Masukkan Dies dari roller "dies in", pastikan jika selector switch dalam keadaan mati "off";
  2. Sesuaikan tinggi stroke terhadap dies, pasang safety block;
  3. Pasang safety block di atas dies, hal ini dilakukan untuk menjaga error pada mesin;
  4. Pasang dan kencangkan baut atas dan bawah, kemudian naikkan ke 0 derajat atau titik mati atas;
  5. Lakukan putaran bebas, satu hingga tiga kali, di sini tidak diperbolehkan ada post guide yang beradu;
  6. Lakukan produksi percobaan, setelah diperiksa jika hasilnya bagus, maka dies siap untuk memproduksi;
Cetakan atau dies dapat digolongkan baik menurut jenis spesifikasi operasi Mesin Press maupun menurut jenis cetakannya.
Penggolongan sederhana yang mencakup jenis cetakan dari dies itu sendiri, sebagai berikut:

PROSES PEMBENTUKAN
Proses pembentukan adalah proses dimana logam ditekan dengan tekanan yang besar sampai dengan batas kemampuan bagian tersebut berubah bentuk seperti yang diinginkan. Dies dapat dikelompokkan lagi menjadi:
a. Draw
yaitu suatu proses pembentukan material. Draw ini merupakan proses awal pada Mesin Press atau Stamping, sebelum dilanjutkan ke proses berikutnya.
Untuk proses draw ini bisa dilakukan untuk 2 kali proses.

b. Bending


yaitu proses penekukan bagian yang hanya dilakukan satu kali per stroke.

c. Flange
yaitu suatu proses penekukan material yang lebih dari satu pada setiap stroke-nya.

d. Curling

yaitu suatu proses pembentukan diameter.

e. Burring
yaitu suatu proses penekukan keliling pada bagian dalam lubang.

f. Stamp
proses yang dilakukan dalam stamp ini sama dengan Draw, tetapi dalam stamp sendiri tidak menggunakan cushion.

g. Bulge
yaitu suatu proses pembesaran dari diameter pipa.


PROSES PEMOTONGAN
Proses pemotongan adalah proses dimana material dipotong sesuai dengan ukuran yang diinginkan agar material tersebut dapat dikerjakan ke dalam proses berikutnya. Proses pemotongan ini dikelompokkan lagi menjadi:
a. Cutting
yaitu suatu proses pemotongan material yang masih berbentuk lembaran (blank material).

b. Trim
yaitu suatu proses pemotongan material pada bagian tepi. Biasanya proses ini adalah lanjutan dari proses sebelumnya, seperti draw, stamp, dan sebagainya.

c. Pierce
yaitu suatu proses pembuatan lubang pada material.

d. Cam Trim/Pierce
sama seperti proses pierce tetapi pada proses ini pembuatan lubang yang dilakukan dari stamping material.

e. Separate
yaitu suatu proses pemotongan pelat menjadi 2 bagian.

f. Slit
yaitu suatu proses penyobekan sebagian material.

g. Notching
yaitu suatu proses pemotongan sebagian material atau sebuah coak kecil.


Hal-hal yang perlu diperhatikan saat pengoperasian Mesin Press
Sebelum kita melakukan pengoperasian Mesin Press, kita harus melakukan pengecekan agar saat dioperasikan mesin berjalan dengan lancar.
Adapun pengecekan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
  1. Pompa grease hand pump sebanyak tiga hingga empat kali, grease ini tidak boleh kosong karena berfungsi untuk melumasi bagian-bagian mesin;
  2. Sebelum menghidupkan main motor, selector switch harus dalam posisi off, kemudian pada indicator harus pada posisi titik mati atas;
  3. Cek portable switch, selector switch pada posisi inch dan gerak stroke harus sampai titik mati atas;
  4. Atur tekanan pressure gauge untuk air balancer;
  5. Slide adjust meter tidak boleh melewati batas atas dan batas bawah.
Sumber: http://planetcopas.blogspot.co.id/2012/05/prinsip-kerja-mesin-stamping-press.html
(telah disunting oleh Blogger Copyright@2015)

Minggu, 13 September 2015

Mesin Bubut

Pengertian

Mesin Bubut adalah suatu mesin perkakas yang digunakan untuk memotong benda yang diputar. Bubut sendiri merupakan suatu proses pemakanan benda kerja yang sayatannya dilakukan dengan cara memutar benda kerja kemudian dikenakan pada pahat yang digerakkan secara translasi sejajar dengan sumbu putar dari benda kerja. Gerakan putar dari benda kerja disebut gerak potong relatif dan gerakkan translasi dari pahat disebut gerak umpan. Dengan mengatur perbandingan kecepatan rotasi benda kerja dan kecepatan translasi pahat, maka akan diperoleh berbagai macam ulir dengan ukuran kisar yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan menukar roda gigi translasi yang menghubungkan poros spindle dengan poros ulir.
Roda gigi penukar disediakan secara khusus untuk memenuhi keperluan pembuatan ulir. Jumlah gigi pada masing-masing roda gigi penukar bervariasi besarnya mulai dari jumlah 15 sampai dengan jumlah gigi maksimum 127.
Roda gigi penukar dengan jumlah 127 mempunyai kekhususan karena digunakan untuk konversi dari ulir metrik ke ulir rinci.

Bagian-bagian Mesin
Mesin bubut terdiri dari kepala tetap dan meja. Adapun bagiannya sebagai berikut:
  • Kepala tetap
  • Kepala lepas
  • Alas mesin
  • Eretan
Jenis-jenis Mesin Bubut
  • Mesin bubut ringan
  • Mesin bubut sedang
  • Mesin bubut standard
  • Mesin bubut meja panjang

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Mesin_bubut